Warga tak Berani Usik Kursi Batu

PAGARALAM - Warga Dusun Talangkubangan, Kelurahan Kancediwe, Kecamatan Dempo Selatan, Kota Pagaralam, Sumsel, kembali menemukan megalit batu kursi Trimurti. Diperkirakan kursi batu yang ditemukan di perkebunan milik Ali, Senin (18/10), berumur ribuan tahun.

Kursi batu itu berada di daerah air terjun Tujuh Putri berjarak sekitar 2 Km dari Dusun Talangkubangan, Kecamatan Dempo Selatan. Megalit ini juga tampak seperti kursi sofa makan berada ditengah kebun dan dikelilingi batu gunung meski kurang terawat.

Lokasi penemuan berjarak 2 Km dari Dusun Talangkubangan atau 1 jam berjalan kaki menelusuri tebing dan kebun kopi atau berjarak 25 Km dari pusat Kota Pagaralam,” kata Ali.

Kursi batu ini ukuran tempat duduknya 50x50 cm dan tinggi sandaran 50 cm dan lebar 50 cm. Dari kabar yang beredar, batu ini dianggap keramat dan sering muncul putri cantik saat hujan yang disertai sinar matahari. Bahkan warga Talang juga sering bermimpi didatangi putri Trimurti. Selain sudah menjadi cerita turun-temurun pemberian nama Trimurti, karena sudah banyak yang bermimpi didatangi putri dengan mengaku nama itu,” kata Ali.

Dijelaskan, sebetulnya kursi batu sudah sering didatangi orang mengingat lokasinya berada sekitar perkebunan kopi dan tempat warga lain yang akan dilewati ke kebun lainnya terletak di pinggir hutan lindung Talangkubangan. “Tetapi karena dianggap keramat sehingga tidak satupun batu tersebut hilang atau bergeser, kecuali gejala alam. Warga sekitar juga takut merusak megalit tersebut karena sering ada kejadian bila bebantuan itu dipindah atau di rusak,” katanya.

Petugas Balai Arkeologi Palembang, Sumsel, Kristantina Indriastuti, mengatakan penemuan itu masih perlu dilakukan tindak lanjutnya untuk membuktikan apa sebenarnya batu itu megalit atau bukan. Namun untuk memastikan zaman apa dan apa jenis megalit itu perlu dilakukan penelitian lagi termasuk jenis batu apa kursi itu. Tapi kalau melihat dari bentuk tentunya megalit itu sudah berumur ribuan tahun.

Sedangakn petugas Kantor BP3 Jambi wilayah kerja Jambi, Sumsel, Bengkulu dan Babel, Akhmad Rivai mengatakan, pihaknya akan kembali mendata dan termasuk pembebasan lahan milik warga sekitar dan melakukan pemagaran di beberapa lokasi situs. Selain itu juga menunjuk juru kunci untuk menjaga serta memelihara keberadaan berbagai peninggalan bersejarah yang berhasil ditemukan tersebut,” katanya. (ant)

sumber : http://www.sripoku.com/view/49542/_warga_tak_berani_usik_kursi_batu