“Rimba MisteriCandi”

BERITA - seputar temuan candi di Pagaralam marak diberitakan mass media, beberapa pekan lalu. Temuan yang diduga “candi” ini terdapat di Dusun Rimba Candi, Kelurahan Candi Jaya, Kecamatan Dempo Tengah, Kota Pagaralam. Lokasi temuan berada pada areal kopi seluas satu hektar, berupa batu berbentuk balokan dan papan (Sripo, 16 Agustus 2010).

Penyebutan Rimba Candi, mungkin bermula dari banyaknya temuan batu yang menyerupai batu candi di lokasi tersebut. Nama Rimba Candi sudah lama terdengar. Bahkan bagi sebagian warga Pagaralam, nama ini sudah tidak asing lagi. Maka tidaklah mengherankan apabila berkembang cerita, di kaki Gunung Dempo terdapat sebuah candi. Yang lebih menghebohkan lagi, candi itu diduga lebih besar daripada Candi Borobudur, sebuah candi Budha yang sudah lama mashur hingga ke mancanegara.

Meskipun telah banyak orang membicarakannya, tetapi misteri keberadaan candi di Rimba Candi masih diselimuti kabut gelap. Sebagian besar masyarakat masih bertanya-tanya, benarkah terdapat candi di kaki Gunung Dempo? Untuk menjawab pertanyaan tersebut perlu dilakukan kajian mendalam dari berbagai disiplin ilmu. Diantara berbagai disiplin ilmu yang dapat mengungkap apakah terdapat bukti atau tidak keberadaan candi di Pagaralam adalah arkeologi dan geologi.
Bukti

Dataran tinggi Pasemah dalam khasanah ilmu pengetahuan internasional dikenal dengan sebutan Budaya Pasemah. Budaya Pasemah identik dengan tinggalan tradisi megalitik atau tinggalan batu-batu besar. Arca megalitik, dolmen atau meja batu, bilik batu (stone chamber), lumpang dan lesung batu, menhir atau batu tegak, dan punden berundak adalah beberapa tinggalan yang berasal dari tradisi tersebut. Tinggalan itu berasal dari 2.500 - 1.500 SM atau paling tidak dari 1.000 SM.

Ada orang yang meyakini adanya temuan candi di kaki Gunung Dempo. Terdapat pribadi/perorangan atau kelompok/tim yang mengaku pernah melihat langsung bukti-bukti yang

diduga sebagai tinggalan candi tersebut. Berdasarkan hasil foto dan laporan yang diambil pribadi/tim yang ditunjukkan kepada penulis, memang terdapat beberapa balok batu dan cekungan yang berisi air. Mereka menduga, balok-balok batu itu merupakan bagian dari batu candi. Sedangkan beberapa cekungan yang berisi air merupakan kolam yang merupakan bagian dari bangunan candi.

Berdasarkan pengamatan, balok-balok atau blok-blok batu itu tidak terdapat bekas pengerjaan. Artinya, batu-batu itu tidak dibuat oleh manusia, melainkan terjadi secara alami. Batu tersebut

termasuk batu bekuan atau batu yang keluar dari perut bumi. Balok atau blok batu ini biasa disebut dengan kekar tiang (columnar joint). Adapun cekungan yang diduga merupakan kolam candi adalah cekungan yang juga terbentuk secara alami. Seiring perjalanan waktu, cekungan itu terisi air sehingga membentuk seperti kolam.

Memang, dalam konsep pendirian candi, tempat tinggi (gunung, bukit, dataran tinggi) merupakan salah satu tempat favorit untuk mendirikan candi, karena para dewa tinggal di sana. Maka banyak

candi yang terdapat di tempat tinggi, seperti di Dieng, Gedong Songo, Candi Penataran, dll. Sekitar Gunung Dempo merupakan tempat ideal untuk mendirikan candi, disamping terdapat di tempat tinggi juga banyak bahan baku tersedia. Di sekitar Gunung Dempo banyak terdapat batuan beku,

salah satu diantaranya adalah batu andesit atau biasa disebut batu kali. Batu andesit merupakan salah satu jenis batu yang juga digunakan untuk membuat tinggalan megalitik. Bahan baku (raw material) ini banyak terdapat di Pasemah.

Meskipun demikian, tidak serta merta di tempat tersebut terdapat candi. Keberadaan sebuah candi tidak dapat dipisahkan dengan komunitas pendukungnya. Berdasarkan data yang ada, di sekitar Gunung Dempo tidak atau belum terdapat data yang mendukung keberadaan sebuah candi, meskipun di tempat tersebut terdapat sebuah lokasi bernama Rimba Candi.

Di dataran tinggi atau pedalaman Sumatera Selatan, candi terdapat di Kabupaten OKU Timur dan OKU Selatan. Kedua candi tersebut adalah Candi Jepara di tepi Danau Ranau dan Candi Nikan. Candi Jepara merupakan candi yang terbuat dari batu andesit dan batu kapur, sedangkan Candi

Nikan terbuat dari batu bata. Kedua candi tersebut terletak dekat atau tidak jauh dari sumber air, yaitu Danau Ranau dan Sungai Komering. Dalam konsep pendirian candi, kedekatan dengan sumber air juga menjadi salah satu alasan penting dalam pemilihan lokasi candi.

Keberadaan Candi Jepara dan Candi Nikan secara fisik dapat dibuktikan, sedangkan ôcandiö di Rimba Candi sampai saat ini belum terlihat. Keberadaan Rimba Candi masih misteri, meski ada beberapa orang yang pernah melihat melaui “mata batin”nya. Mereka beranggapan, untuk melihat

candi” tersebut harus suci hati, niat ikhlas, dan tanpa pamrih. Di satu sisi, kebenaran ilmiah harus dapat dibuktikan secara fisik.

Rimba Candi sebuah misteri yang masih diselimuti kabut pekat. Moga-moga kabut itu akan sirna seiring datangnya mentari pagi di ufuk timur. Semoga.


Sumber : http://www.sripoku.com/view/47326/_rimba_mistericandi_