Merekam Jejak Pendahulu di NAD

Petugas balai Arkeologi Medan membersihkan kerangka manusia prasejarah di Loyang Ujung Karang, Kebanyakan, Aceh Tengah, Rabu (29/9/2010). (sumber foto : KOMPAS/Mahdi Muhammad)

Oleh :
Mahdi Muhammad

KOMPAS.com - Para peneliti Balai Arkeologi Medan menemukan dua kerangka yang diyakini sebagai manusia prasejarah. Diyakini, mereka telah menghuni Dataran Tinggi Gayo sejak 5.000 tahun lalu. Penemuan pertama kerangka manusia prasejarah di dataran tinggi Sumatera.

Kerangka pertama ditemukan tim di Loyang (Goa) Mendale, Desa Mendale, Kecamatan Kebayakan, Kabupaten Aceh Tengah. Beberapa batu berukuran cukup besar mengimpit bagian panggul dan kepala kerangka itu. Para peneliti sangat hati-hati mengupas bebatuan yang mengimpit agar kerangka tidak rusak.

Kerangka kedua ditemukan dalam kondisi yang lebih baik. Tidak ada satu pun batu yang mengimpit kerangka laki-laki yang ditemukan di Loyang Ujung Karang.

Loyang-loyang tempat ditemukannya kerangka manusia prasejarah berada di kawasan karst di sisi barat Danau Laut Tawar. Diyakini masih banyak kerangka manusia prasejarah beserta peralatan budayanya yang terbenam di bukit tersebut.

Ketua Tim Peneliti Balar Medan Ketut Wiradnyana, di sela-sela proses penggalian di Takengon, Aceh Tengah, pertengahan pekan lalu, menerangkan, penggalian kali ini adalah penggalian ketiga sejak tahun 2008 dan 2009. Tim menduga kerangka manusia yang ditemukan hidup pada zaman peralihan mesolitik ke neolitik.

Temuan barang-barang kerajinan di sekitar lokasi penemuan kerangka memperkuat argumentasi tersebut. Beberapa temuan, seperti kapak lonjong, kapak persegi, fragmen atau serpihan keramik, serta mata tombak yang terbuat dari batu, adalah beberapa indikator masa peralihan mesolitik ke neolitik.

Mata panah yang terbuat dari batu dan peralatan rumah tangga berbahan dasar cangkang kerang (alat serpih) serta kapak genggam menjadi dasar argumentasi bahwa kerangka manusia tersebut mengenal budaya manusia pada zaman mesolitik. Alat-alat itu digunakan untuk berburu dan memotong serta menguliti binatang buruan.

Dari fragmen atau serpihan keramik yang ditemukan, misalnya, menurut Ketut, masyarakat yang hidup pada zaman mesolitik, belum memiliki teknologi pembakaran yang baik. Metode pembakaran yang digunakan adalah pembakaran seadanya, seperti ranting kayu hingga sekam atau ilalang.

”Manusia pada masa itu baru mengenal teknologi gerabah,” ujar Ketut.

Sementara, dari lapisan tanah, menurut Ketut, sampai 40 sentimeter (dari mula permukaan tanah), peneliti menemukan serpihan-serpihan gerabah dari zaman kolonial. Pada lapisan berikutnya, yaitu 40-70 sentimeter, beberapa serpihan gerabah yang diyakini berasal dari zaman neolitik ditemukan.

Penggalian lebih dalam lagi, yaitu kedalaman 70 hingga 135 sentimeter, peneliti menemukan beberapa peralatan hidup manusia pada zaman mesolitik.

Di samping dua hal tersebut, anggapan dan kesepakatan umum para arkeolog menyatakan, peralihan masa mesolitik ke neolitik di Indonesia dan kawasan sekitarnya, menurut Ketut, terjadi pada 5.000 tahun yang lampau.

Budaya dan migrasi

Dua kerangka manusia setinggi 140-150 sentimeter yang ditemukan di dua loyang, dalam posisi tidur telentang. Tangan bersedekap di atas dada. Namun, tulang keringnya (ruas tulang antara lutut dan mata kaki) dan telapak kaki terlipat ke belakang sejajar dengan ruas tulang paha hingga ke tulang panggul.

Di atas tangannya yang bersedekap di atas dada terdapat sebuah cawan. Ketut meyakini cawan ini adalah cawan persembahan.

Selain cawan, di atas kerangka juga ditemukan mata panah batu. Mata panah batu inilah yang meyakinkan arkeolog, kerangka ini hidup pada zaman peralihan.

Tengkorak kerangka ini berada di sisi timur. Secara keseluruhan, kerangka ini menghadap ke barat. Ketut menginterpretasikan bahwa manusia pada masa itu telah memiliki kepercayaan adanya reinkarnasi setelah meninggal dunia. Arah timur mewakili arah terbit matahari, dan barat sebaliknya. ”Kelahiran dan kematian,” ujarnya.

Ditelisik lebih jauh, tim tidak menemukan adanya sisa-sisa tulang atau bahan makanan di sekitar goa. Ketiadaan ini, kata Ketut, bisa menjadi indikator bahwa goa-goa tersebut digunakan sebagai pemakaman.

Lucas P Koestoro, peneliti senior Balar Medan, mengatakan, dibandingkan dengan temuan kerangka manusia di Situs Bukit Kerang Pangkalan, Kecamatan Kejuruan Muda, Kabupaten Aceh Tamiang, posisi kerangka sedikit berbeda. Di sini, kerangka ditemukan dalam posisi meringkuk. ”Seperti bayi dalam kandungan,” ujarnya.

Lucas mengatakan, dibandingkan dengan temuan kerangka serta situs bukit kerang di Aceh Tamiang, usia kerangka ini jauh lebih muda. Hasil carbon dating (teknologi penggunaan karbon 14 (C14) untuk menentukan usia benda), beberapa temuan di situs itu menunjukkan usia 12.500 tahun lalu.

Menurut Lucas, kemungkinan kerangka manusia prasejarah Aceh Tengah merupakan kelompok manusia yang bermigrasi dari Vietnam Utara, ribuan tahun lalu. Masuk melalui beberapa jalur, terutama Selat Malaka dan sungai (Krueng Peusangan yang berhulu di Danau Laut Tawar) melalui pesisir timur Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), mereka tiba di Dataran Tinggi Gayo. Kemungkinan, menurut Lucas, mereka tiba di Danau Laut Tawar dengan menyusuri sungai.

”Bisa berjalan kaki atau menggunakan rakit,” tuturnya.

Beberapa peralatan yang digunakan oleh kelompok manusia prasejarah di Aceh Tengah juga pernah ditemukan di Situs Bukit Kerang-Aceh Tamiang. Kedua temuan ini juga menyerupai benda-benda budaya masyarakat Hoa Bienh, Vietnam Utara.

Ketut mengatakan, masih diperlukan waktu untuk merangkaikan kepingan-kepingan temuan arkeologis menjadi satu cerita utuh tentang siapa penghuni Swarnadvipa beserta budayanya serta mengapa mereka bermigrasi. Kepingan-kepingan ini masih terus dirangkai.

Sumber :http://sains.kompas.com/read/2010/10/20/0929247/Merekam.Jejak.Pendahulu.di.NAD