Perubahan Iklim 11.000 Tahun yang Lalu

Beberapa waktu yang lalu para pemimpin negara-negara dunia telah menyelesaikan Konferensi Perubahan Iklim PBB di Kopenhagen, Denmark. Isu yang diangkat mengenai perubahan iklim dan pemanasan global yang terjadi di bumi. Pertemuan ini diikuti oleh anggota PBB termasuk Negara Indonesia. Namun sayang pertemuan ini tidak menghasilkan langkah kongkret tentang penyelamatan dan perubahan iklim di bumi yang terus berlangsung, sehingga pertemuan ini terkesan sia-sia saja.

Pemanasan global dan perubahan iklim di bumi tidak hanya terjadi pada Abad XXI ini saja, namun jauh sebelum manusia mengenal tulisan, pemanasan global dan perubahan iklim di bumi telah lama terjadi. Para ahli paleoklimatologi, geologi dan arkeologi mencacat setidaknya telah terjadi empat kali proses glasiasi dan interglasiasi besar Kala Plestosen yang terjadi kira-kira 1,7 juta sampai 11.000 tahun yang lalu. Proses glasiasi adalah bahasa ilmiah yang dipakai oleh para ahli untuk menjelaskan proses yang terjadi akibat suhu di bumi mengalami penurunan sehingga permukaan air laut turun dan daratan menjadi luas sering juga disebut sebagai Jaman Es, sedangkan proses interglasiasi adalah proses yang terjadi akibat suhu di bumi mengalami pemanasan sehingga permukaan air laut naik dan terjadi penyempitan daratan.

Proses glasiasi terakhir telah menyebabkan permukaan air laut turun sebanyak 150 meter dari permukaan air laut yang sekarang sehingga menyebabkan terbentuknya jembatan darat bagi hewan-hewan dan manusia untuk melewatinya. Proses glasisasi ini menyebabkan terbentuknya paparan yang luas di wilayah Indonesia yaitu, Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan dan Pulau Jawa menjadi satuan daratan yang disebut sebagai Paparan Sunda. Sedangkan Pulau Papua dan Kepulauan Tasmania menjadi satu dengan Benua Australia yang disebut Paparan Sahul. Pulau yang tidak bergabung dengan kedua paparan ini saat terjadi proses glasiasi adalah Pulau Sulawesi. Bergabungnya pulau-pulau tersebut masih dapat dilihat pada saat ini melalui bukti-bukti persamaan hewan-hewan yang tinggal di pulau-pulau tersebut.

Pada jaman dahulu proses glasiasi tidak berlangsung secara cepat, namun terjadi melalui proses yang panjang yang memakan waktu 2.000 tahun yaitu 20.000 – 18.000 tahun yang lalu. Proses interglasiasi pun terjadi lebih lama lagi memakan waktu selama 7.000 tahun yaitu 18.000 – 11.000 tahun yang lalu. Proses yang terjadi secara alamiah oleh bumi ini telah membawa dampak yang sangat besar bagi kelangsungan mahluk hidup di bumi, migrasi dari Asia Daratan ke Paparan Sunda serta Paparan Sahul telah membentuk kelompok fauna yang berbeda.

Akibat proses glasiasi dan interglasiasi, terjadi perubahan iklim yang ekstrim, curah hujan menurun, udara semakin kering dan dingin bahkan terjadinya gempa-gempa tektonik yang disebabkan perubahan muka air laut. Akibat perubahan iklim yang terjadi di bumi, manusia dan hewan harus dapat beradaptasi dengan lingkungannya agar dapat bertahan hidup.

Perubahan iklim dan pemanasan global bukan hanya sebuah isu angin lalu saja, namun perubahan iklim dan pemanasan global saat ini sedang terjadi dan manusia dapat merasakan dampaknya yang luar biasa seperti menghangatnya suhu bumi, es kutub yang mencair, seringnya bencana alam. Apakah kali ini manusia masih dapat beradaptasi dengan lingkungannya lagi? Sejarah telah mencatat bagaimana manusia harus beradaptasi dengan keras terhadap perubahan iklim pada 11.000 tahun. Belum terlambat untuk menyelamatkan bumi kita yang hanya satu ini.