Jejak Langkah yang Tertinggal di Muaro Jambi

Sejarah penemuan candi
Tangannya begitu terampil membersihkan bata demi bata candi yang ditempeli oleh lumut. Tidak perduli jika matahari telah beranjak meninggi membakar kulitnya yang mulai mengeriput. “Lumut-lumut ini harus dibersihkan agar bata candinya awet, apalagi musim hujan sekarang, lumut-lumut tumbuh subur jadi harus lebih sering dibersihkan” Kata Arbain (57), seorang juru pelihara dari Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jambi yang bertugas membersihkan dan memelihara Candi Gumpung.
Candi Gumpung merupakan salah satu candi dari sembilan candi yang masih bertahan di Kompleks Candi Muaro Jambi yang terletak di Kecamatan Muaro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Propinsi Jambi, tepatnya di tepi Sungai Batanghari, sekitar 26 kilometer arah timur Kota Jambi. Candi tersebut diperkirakan berasal dari abad ke-11 M. Kompleks Candi Muaro Jambi merupakan kompleks candi beraliran agama Buddha yang terbesar di pulau Sumatera. Berdasarkan penelitian dan tinggalan arkeologis serta aliran keagamaan Kompleks Candi Muaro Jambi merupakan bukti dari kejayaan Kerajaan Sriwijaya di Jambi.
Penemuan Kompleks Candi Muaro Jambi pertama kali dilaporkan pada tahun 1823 oleh seorang Letnan Inggris bernama S.C. Crooke yang melakukan pemetaan daerah aliran Sungai Batanghari untuk kepentingan militer. Namun, baru tahun 1975, pemerintah Indonesia mulai melakukan pemugaran Kompleks Candi Muaro yang dipimpin arkeolog R. Soekmono.

Jejak hewan di bata candi
Kompleks Candi Muaro Jambi tidak hanya terdapat candi tetapi juga ditemukan parit atau kanal kuno, kolam tempat penampungan air serta gundukan tanah atau manapo sebutan penduduk setempat yang di dalamnya terdapat struktur bata kuno. Selain tinggalan yang berupa bangunan, dalam kompleks candi juga ditemukan arca, umpak batu, lumpang atau lesung batu, keramik asing, tembikar, belanga dari perunggu, mata uang Cina, manik-manik, bata-bata bertulis, bergambar dan bertanda serta fragmen besi dan perunggu yang tersimpan di ruang museum Kompleks Candi Muaro Jambi.
Yang menarik dari bata-bata di Kompleks Candi Muaro Jambi ada beberapa bata yang bercap kaki anak kecil, hewan-hewan seperti sapi, anjing, ayam, babi bahkan mungkin harimau. Cap kaki ini seakan-akan ingin berkata bahwa Kompleks Candi Muaro Jambi ini dahulu banyak terdapat hewan-hewan tersebut dan para Biksu dapat hidup berdampingan dengan mereka. Bata-bata bercap tersebut tersusun rapi di dalam ruangan museum yang tidak terlalu besar bersama artefak-artefak temuan yang lain.

Fasilitas wisata masih minim
“Setiap minggu dan hari-hari libur museum ini penuh sesak oleh wisatawan” terang Ujang (49), seorang pegawai BP3 Jambi yang mengurusi bagian museum. Kompleks Candi Muaro Jambi pada saat ini sedang “naik daun” dan menjadi tujuan objek wisata masyarakat Jambi bahkan masyarakat luar Jambi, hal ini dapat dilihat dari mobil yang datang terparkir di halaman candi, banyak yang berplat luar Jambi.
Namun peningkatan jumlah wisatawan ini tidak diiringi oleh meningkatnya fasilitas wisata pendukung didalam kompleks candi. Tidak adanya tempat parkir yang layak serta tempat sampah dan jalan yang layak merupakan permasalahan yang harus menjadi perhatian serius dari pemerintah daerah untuk meningkatkan pelayanan terhadap wisatawan. “Jalan ke candi becek kalo musim hujan dan sangat susah mencari tempat sampah, mohon kiranya pemerintah memperhatikan agar wisatawan agar merasa nyaman” ujar Agung (35), wisatawan dari Lampung.
Kompleks Candi Muaro Jambi menyimpan keunikan tersendiri dan merupakan saksi sejarah keberadaan Kerajaan Sriwijaya. Jejak-jejak yang ditinggalkan hendaknya dilestarikan dan dilindungi dalam pemanfaatannya agar tidak merusak sehingga candi ini dapat menjadi warisan yang masih dapat dilihat anak cucu.